Wisdom

Wisdom (hikmah, hukm, حكم) is the willpower and the ability to make the right decisions.

Lessons from Surah Yusuf, ayaat 22

(again, incredibly inspiring explanation of the Qur’an from Ustadz Nouman Ali Khan.. There is a whole (currently ongoing) series of comprehensive review about Surah Yusuf and a lot of wisdoms we can take from the life of Yusuf a.s.)

Improve by Practice

Bismillahirrohmanirrohiim.

I intend to write more often, more consistently, as an effort to improve my writing ability.

Which, based on recent IELTS test results, appears to be stagnant for almost 7 years! :’

Advices on improving writing always had one thing in common: practice, practice, practice! Improve by practice.

So that is what I’m trying to do. Starting with this piece.

Bismillah.

Ujian yang Sesungguhnya

“Gue gak pernah belajar selama ini. Biasanya mau osce kkd, ujian anat, sumatif, ujian pasien apa juga, paling belajar H-1, H-2. Ini udah osce kompre belajar 2 minggu berturut, ukmppd belajar sebulan lebih. Capek banget.”

– seorang teman, yang iya dia emang jago parah

Habis-habisan. Kalau ada satu frase yang boleh mewakili gimana usaha temen-temen buat nyiapin ukmppd, barangkali ini salah satu yang tepat.

Ribuan soal dibabat. Puluhan jam setiap hari dihabiskan. Untuk sekian ratus slide materi setiap hari. Sekian ragam buku teks, guideline, konsensus, you name it.

This is a HIGH STAKE exam. Ujian yang lain dari yang lain. “Bagaikan hidup dan mati,” katanya.

Sebegitu niatnya, sebegitu menguras energinya. Menyiapkan diri untuk ujian yang satu ini. Mempersiapkan bekal terbaik, amunisi terbaik.

Tapi bukankah ada ujian yang lebih HIGH STAKE lagi ketimbang ujian kompetensi dokter ini?

Ujian yang setiap kita PASTI akan menghadapi, hanya tidak tahu kapan datangnya nanti. Ujian yang bahkan lebih dari hidup dan mati.

Itulah ujian SETELAH kita MATI.

Berlapis-lapis. Mulai dari liang kubur, padang mahsyar, hingga shirothol mustaqim. Ketika berat timbangan amalan kebaikan dan tumpukan dosa ditimbang. Ketika penyesalan tak lagi menyisakan kesempatan. Ketika jawabannya berarti jatuh terjerembab terbakar dalam kobar siksa api neraka, atau bahagia syukur tiada tara menapak surga.

This is ultimately an exam with the HIGHEST STAKE.

Maka sudah seberapa banyak bekal kita siapkan untuk menghadapinya?

Sudahkah ada berjam-jam kita sisihkan, energi kita habiskan, bermalam kita simpuhkan, sekedar untuk mengingat, syukur-syukur mempersiapkan, ujian terbesar yang akan kita hadapi bersama-sama, nanti?

Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan ampunan dari Dia Yang Maha Pemberi Petunjuk, Maha Pemurah lagi Maha Pengampun.

(Jakarta, 19 Februari 2019).


..‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’ Beliau menjawab, ‘yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’

(HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata : hadits hasan)

P.S. Selamat kepada teman-teman cld ui 2019/20 batch I atas kelulusan UKMPPDnya! We did it guys! Alhamdulillah, rate 100% untuk first-taker. Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Tapi lebih dari itu, I truly believe that hasil ini bukan hanya karena usaha keras kita bareng-bareng, tapi juga berkat dukungan, support, dan amunisi do’a yang luar biasa dari orang-orang terdekat kita — orang tua, guru-guru serta segenap staf fkui sekalian.

Tak Biasa

Jalan yang kupilih mungkin memang bukan jalan yang mudah. Tidak biasa. Terjal. Unconventional.

Meskipun ada pilihan lain yang tampaknya lebih mudah, lebih nyaman. Menyenangkan. Diinginkan. Diangankan. Dengan tujuan akhir yang terlihat tak ada perbedaan. Namun aku tak yakin, apakah ridho Allah ada di dalamnya.

Maka aku memilih jalan ini. Terlihat riskan. Berbahaya. Namun kuharap terjaga keberkahannya. Dalam segala proses dan likunya.

Kuharap kau mengerti. Semoga kita senantiasa istiqomah menapaki jalan dalam hidayahNya.

11 Agustus 2018.

Pengalaman Pertama naik Transjakarta non BRT

Sudah sekitar 2 tahun hidup di Jakarta, baru kemarin saya mencoba Transjakarta trayek non-BRT. Transjakarta atau busway ini memang sejatinya mengusung konsep BRT alias Bus Rapid Transit ketika awal dibentuk, di mana ada jalur khusus untuk bis sehingga bisa tenang melawan kemacetan. Ada halte khusus yang dedicated buat bis yang letaknya di tengah ruas jalan, sebagai akses keluar masuknya penumpang. Secara saklek penumpang mesti naik dan turun di halte dedicated ini.

Seiring waktu, layanan Transjakarta terus berkembang hingga sekarang punya juga trayek non-BRT. Di rute ini, penumpang tidak mesti naik dan turun dari halte khusus lagi, tapi bisa langsung di pinggir jalan. Tentunya nggak sembarangan, tapi di bus stop tertentu yang telah khusus ditetapkan. Ini konsep city bus yang sudah lama diterapkan di negara-negara maju, sebut saja Jepang, Belanda, bahkan Singapura.

Sebenernya udah lama menyadari bahwa di Jalan Diponegoro depan RSCM itu, sejak awal 2017 kira-kira, banyak busway yang lewat dan bisa menaik-turunkan penumpang dari pinggir jalan. Di trayek busway di internet juga keliatan ada halte RSCM, meskipun tidak ada bentukan halte dedicated macam di Salemba UI. Makanya penasaran, tapi belum pernah nyoba.

Kemarin, kebetulan sedang ada urusan di sekitaran RS Kanker Dharmais dan RS PJN Harapan Kita. Sore hari setelah urusan beres, saya ngecek Go-Jek untuk balik ke daerah Salemba. Lihat tarif di Go-Ride, 13 ribu. Udah mau pesan, tapi setelah saya pikir lagi, toh kebetulan saya lagi nggak buru-buru, nyoba deh naik busway aja sampai RSCM.

Akhirnya naiklah di halte RS Harapan Kita. Setelah beberapa menit, datang juga bus koridor 4A, Grogol – TU Gas. Bus yang trayeknya menghubungkan RSCM dan Harapan Kita secara langsung. Oke. Saya pun naik.

Awalnya bus ini jalan via jalur busway biasa, melewati halte yang saya sebut dedicated tadi (Halte RS Harkit tempat saya naik juga termasuk). Terus berlanjut hingga Sudirman, halte Dukuh Atas 1. Kemudian Tosari-ICBC. Baru setelah halte ini, bus belok di Bundaran HI menuju Jalan Imam Bonjol, keluar dari trayek busway.

Di sinilah bus mulai masuk rute non-BRT. Di sepanjang Jalan Diponegoro, ternyata cukup banyak bus stop untuk pemberhentiannya. Mulai dari Taman Senopati, Stasiun Cikini, Megaria (Metropole), hingga RSCM. Saya lanjut karena berniat turun di Jalan Salemba Raya aja. Ternyata bisa berhenti lagi di YAI (depan RSCM Kiara). Kemudian belok ke Jalan Salemba.

Di sini kirain udah masuk trayek busway lagi. Ternyata belum. Bus berhenti di Halte RS Carolus, tepat di depan rumah sakitnya, dan bukan halte Salemba Carolus yang memang halte busway dedicated. Saya turun di sini. Baru di Matraman, bus 4A ini akan masuk ke trayek halte busway dedicated seperti sedia kala. Karena bukan di halte dedicated, turunnya agak beda. Bukan dari pintu tengah, tapi pintu depan. Tersebab pintu tengahnya ketinggian, didesain khusus buat halte dedicated.

Perjalanan dari Harkit ke RSCM dengan busway ini nggak lama, sekitar 40 menit. Dengan ongkos 3.500 saja. Sama-sama bisa sampai. Suasananya pun nyaman. Kelebihan lain naik bus dibandingkan ojek, saya juga bisa sambil baca gadget dengan lebih bebas. Kalo di ojek, ngeri jambret. Jakarta keras.

Demikianlah, pertama kalinya saya naik busway non-BRT. Kesan saya, nyaman. Sekarang pun setelah saya cari tau, memang TransJakarta makin banyak trayek dan rutenya, makin banyak rute non-BRT pula, yang artinya merambah ke lebih banyak area. Ke mana-mana semakin mudah.

Semakin hari, semoga transportasi umum di Jakarta, dan Indonesia, makin baik lagi. Semoga trayeknya makin luas lagi. Biar kita juga makin getol naik transport umum. Biar Jakarta makin aman, makin nyaman. Saya yakin akan bisa, apalagi dengan adanya LRT-MRT yang semakin ke sini bentukannya udah semakin jadi. Dengan KRL yang semakin ke sini juga semakin apik dibenahi. Gak sabar ingin ikut merasakan, Jakarta ke depan yang ojek independen, yang nyaman dijelajahi dengan transportasi umum.

Tugas pemerintah buat membangun, tapi tugas kita bareng-bareng untuk menjaga, memanfaatkan sebaik-baiknya, dan memelihara.

Bumi Pasundan

Menujumu adalah sebuah debar penantian kesejukan.
Pertemuan denganmu selalu diawali selukis senyum tipis menentramkan hati, dalam sepoi sejuk angin pagi.
Berkali pertemuan denganmu adalah satu kisah baru lagi.
Hingga namamu terpatri dalam lukis tinta memori berhias kuas pena prodigi.

Terima kasih telah menggoreskan segaris batu loncatan lagi.
Terima kasih atas lonjak lejit gelombang ombak emosi.
Terima kasih atas 3 hari ini.

Semoga yang terbaik, dimulai dari sini. Segenap pasrahku kepada Yang Maha Kuasa, agar petunjukNya menaungi semua dari kami. Dalam namaNya.

Terima kasih, Bumi Pasundan.

Bandung,
Dalam kelok lika-liku labirin gundah-harapku.

Rabu, 18 Juli 2018.
Sehari setelah Selasa.
(Dan dua hari setelah Senin).

Jarak

Bagaikan nikmat yang acapkali luput jika kita tak pernah bersyukur,
Dekat membuat kita lupa terhadap indahnya berjumpa

Sebab itulah, jarak kadangkala dibutuhkan
Agar kita lebih menghargai pertemuan

Karena seindah apapun untaian huruf terangkai dalam kata,
Tak akan pernah jadi kalimat yang indah tanpa ada karakter kecil bernama “spasi”
Ruang kosong tak kasat mata, namun tidak bisa tidak ada.
Tak terlihat tapi bermakna, dirindukan jika tiada.
Memisahkan, tapi memberi arti tak tergantikan.

Maka kuharap, kau tak salah sangka jika sekali waktu aku sengaja menciptakan jarak.
Bukan karena itu yang kuinginkan, tapi rasanya itu yang tepat untuk dilakukan.
Terkadang sama-sama kita perlukan.

Sementara terpisahkan, agar dipersatukan dalam kekuatan.
Jika waktu dan takdirNya mengizinkan. Semoga.

Menunda Kebaikan

Jika itu sebuah kebaikan, dan tak ada aral melintang untuk tidak segera melakukan, apa hukumnya menunda-nunda melaksanakannya?

Bukankah selayaknya sholat, lebih utama jika kebaikan itu disegerakan?

Karena jika telah ada waktu dan kemampuan, tapi kita yang dengan sengaja menciptakan alasan.. yang mengikuti kemudian malahan adalah ketidaknyamanan, penundaan-penundaan berikutnya, kehilangan kemuliaannya. Hingga pada akhirnya, jika beruntung masih ada waktu untuk melaksanakannya, akan jadi lebih tidak maksimal, kurang khusyu’ dan khidmat — akibat terburu-buru di penghujung waktu?

Semoga kita termasuk dalam orang-orang yang senantiasa bersegera dalam kebaikan.

** sebuah renungan, pengingat, bahkan teguran. melalui mimpi yang datang malam-malam.

Dalam mimpi, saat itu waktu Isya’ telah datang namun dengan sengaja aku tidak melakukan. Beberapa saat menjelang, muncul urusan-urusan, tak henti-henti berdatangan, yang dalam tiap penyelesaiannya betapa tidak nyaman rasa khawatir bahwa aku belum sholat, bahwa mungkin saja waktu ini malah terlewat, dan penyesalan mengapa tadi justru beralasan ketika waktu yang lapang sesungguhnya sempat datang. Hingga kemudian terbangun lalu tersadar, alhamdulillah, sudah sholat Isya’.

Di titik itulah, aku menyadari betapa bersyukurnya mendapati diri dalam keadaan telah tunai sebuah kewajiban, sebuah kebaikan.

On the authority of Abdullah ibn Umar (may Allah be pleased with him), who said:

The Messenger of Allah (peace and blessings of Allah be upon him) took me by the shoulder and said, “Be in this world as though you were a stranger or a wayfarer.” And Ibn Umar (may Allah be pleased with him) used to say, “In the evening do not expect [to live until] the morning, and in the morning do not expect [to live until] the evening. Take [advantage of] your health before times of sickness, and [take advantage of] your life before your death.” [HR. Bukhari, hadits Arba’in no. 40]
“Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang.” [HR. Bukhari, dari Ibn ‘Abbas]
Jakarta, 8 Juli 2018. Dini hari.

Menghafal Qur’an Metode Tikrar

I found this method very convenient dengan hasil hapalan yang cukup nempel, bahkan ketika tidak begitu paham makna per katanya. Sayangnya baru “ketemu” setelah Ramadhan berakhir, padahal mushafnya (pinjeman — hehe) pegang terus.

Metode Tikrar, repetition, menghafal dengan pengulangan. Ada di bagian pengantar mushaf metode tikrar. Ini merupakan metode yang katanya old-fashioned, udah dikenal sejak lama. Tapi terbukti efektif. Dan terus dipakai. Termasuk oleh para penghafal Qur’an di dua masjid Haramain.

Disebutkan di sana: menghafal tanpa terasa menghafal. Kuncinya, dengan pengulangan. Membaca berulang-ulang. Disebutkan, minimal 40 kali membaca passage yang sama. Akan hafal sendiri.

Dan benar saja. Untuk mudah dan nyamannya, ikuti tabel yang ada di pinggir Mushaf Tikrar itu. Satu halaman dibagi menjadi empat bagian. Satu bagian dibagi lagi jadi dua maqtha’. Jadi satu halaman ada 8 maqtha’.

Baca satu maqtha’ berulang-ulang. Baca saja, santai, rileks. Baca dengan baik dan benar. Lengkap dengan tajwid dan nadanya. Tanpa dimaksudkan menghafal. Lancarkan lidah dulu. Minimal 10 kali, 15 kali. Tetap lihat mushaf. Di pengulangan yang udah ke-belasan, biasanya sudah mulai hafal sendiri. Sudah mulai tahu what comes next. Akan gatel sendiri untuk mencoba tanpa melihat mushaf.

Saat sudah mulai belasan, oke. Boleh kalau mau coba baca tanpa lihat mushaf. Sedikit demi sedikit. Tapi jangan buru-buru. Setidaknya 10 kali, usahakan masih lihat mushaf dulu. Pastikan bacaannya sudah benar, dan yang benar ini diulang terus terus dan terus. Sebab ketika mulai tidak lihat mushaf, tidak jarang lidah mungkin keseleo sehingga ada kesalahan. Gak masalah, perbaiki. Ulangi lagi.

Setelah satu maqtha’ dirasa lancar, atau setelah selesai 40x, lanjut ke maqtha’ berikutnya. Ulangi lagi, langkah yang sama. Setelah selesai, coba sambung kedua maqtha’ jadi satu bagian. Mungkin di maqtha’ pertama yang dihafal akan agak keseleo lagi. Gapapa. Ulangi lagi, kali ini setiap ulangan bacanya full satu bagian. Dua maqtha’. Terus, berpuluh kali. Jika dirasa sudah mantap, baru lanjut lagi. Tabel di sebelahnya itu, jadi patokan tentang lanjut ke maqtha’ atau bagian mana lagi yang dibaca setelahnya.

Makan waktu yang tidak sedikit, memang. Satu maqtha’ 10 menit, mungkin lebih. Jadi satu halaman, bisa satu jam lebih. Tapi insyaAllah hasilnya cukup baik.

Wallahu a’lam.

Mudah-mudahan Allah sertakan kita dalam golongan orang-orang yang senantiasa dalam petunjukNya, serta senantiasa mampu bermesra dengan kitabNya.

Sebagai penutup. Ada satu kutipan yang saya sukai. Bukan untuk menyamai diri dengan derajat para huffadz, hafidzohumullah, namun sebagai pembara api motivasi dan semangat. “Kamu adalah seorang hafidz, selama kamu tidak berhenti menghafal.”