Menghafal Qur’an Metode Tikrar

I found this method very convenient dengan hasil hapalan yang cukup nempel, bahkan ketika tidak begitu paham makna per katanya. Sayangnya baru “ketemu” setelah Ramadhan berakhir, padahal mushafnya (pinjeman — hehe) pegang terus.

Metode Tikrar, repetition, menghafal dengan pengulangan. Ada di bagian pengantar mushaf metode tikrar. Ini merupakan metode yang katanya old-fashioned, udah dikenal sejak lama. Tapi terbukti efektif. Dan terus dipakai. Termasuk oleh para penghafal Qur’an di dua masjid Haramain.

Disebutkan di sana: menghafal tanpa terasa menghafal. Kuncinya, dengan pengulangan. Membaca berulang-ulang. Disebutkan, minimal 40 kali membaca passage yang sama. Akan hafal sendiri.

Dan benar saja. Untuk mudah dan nyamannya, ikuti tabel yang ada di pinggir Mushaf Tikrar itu. Satu halaman dibagi menjadi empat bagian. Satu bagian dibagi lagi jadi dua maqtha’. Jadi satu halaman ada 8 maqtha’.

Baca satu maqtha’ berulang-ulang. Baca saja, santai, rileks. Baca dengan baik dan benar. Lengkap dengan tajwid dan nadanya. Tanpa dimaksudkan menghafal. Lancarkan lidah dulu. Minimal 10 kali, 15 kali. Tetap lihat mushaf. Di pengulangan yang udah ke-belasan, biasanya sudah mulai hafal sendiri. Sudah mulai tahu what comes next. Akan gatel sendiri untuk mencoba tanpa melihat mushaf.

Saat sudah mulai belasan, oke. Boleh kalau mau coba baca tanpa lihat mushaf. Sedikit demi sedikit. Tapi jangan buru-buru. Setidaknya 10 kali, usahakan masih lihat mushaf dulu. Pastikan bacaannya sudah benar, dan yang benar ini diulang terus terus dan terus. Sebab ketika mulai tidak lihat mushaf, tidak jarang lidah mungkin keseleo sehingga ada kesalahan. Gak masalah, perbaiki. Ulangi lagi.

Setelah satu maqtha’ dirasa lancar, atau setelah selesai 40x, lanjut ke maqtha’ berikutnya. Ulangi lagi, langkah yang sama. Setelah selesai, coba sambung kedua maqtha’ jadi satu bagian. Mungkin di maqtha’ pertama yang dihafal akan agak keseleo lagi. Gapapa. Ulangi lagi, kali ini setiap ulangan bacanya full satu bagian. Dua maqtha’. Terus, berpuluh kali. Jika dirasa sudah mantap, baru lanjut lagi. Tabel di sebelahnya itu, jadi patokan tentang lanjut ke maqtha’ atau bagian mana lagi yang dibaca setelahnya.

Makan waktu yang tidak sedikit, memang. Satu maqtha’ 10 menit, mungkin lebih. Jadi satu halaman, bisa satu jam lebih. Tapi insyaAllah hasilnya cukup baik.

Wallahu a’lam.

Mudah-mudahan Allah sertakan kita dalam golongan orang-orang yang senantiasa dalam petunjukNya, serta senantiasa mampu bermesra dengan kitabNya.

Sebagai penutup. Ada satu kutipan yang saya sukai. Bukan untuk menyamai diri dengan derajat para huffadz, hafidzohumullah, namun sebagai pembara api motivasi dan semangat. “Kamu adalah seorang hafidz, selama kamu tidak berhenti menghafal.”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s