Pengalaman Pertama naik Transjakarta non BRT

Sudah sekitar 2 tahun hidup di Jakarta, baru kemarin saya mencoba Transjakarta trayek non-BRT. Transjakarta atau busway ini memang sejatinya mengusung konsep BRT alias Bus Rapid Transit ketika awal dibentuk, di mana ada jalur khusus untuk bis sehingga bisa tenang melawan kemacetan. Ada halte khusus yang dedicated buat bis yang letaknya di tengah ruas jalan, sebagai akses keluar masuknya penumpang. Secara saklek penumpang mesti naik dan turun di halte dedicated ini.

Seiring waktu, layanan Transjakarta terus berkembang hingga sekarang punya juga trayek non-BRT. Di rute ini, penumpang tidak mesti naik dan turun dari halte khusus lagi, tapi bisa langsung di pinggir jalan. Tentunya nggak sembarangan, tapi di bus stop tertentu yang telah khusus ditetapkan. Ini konsep city bus yang sudah lama diterapkan di negara-negara maju, sebut saja Jepang, Belanda, bahkan Singapura.

Sebenernya udah lama menyadari bahwa di Jalan Diponegoro depan RSCM itu, sejak awal 2017 kira-kira, banyak busway yang lewat dan bisa menaik-turunkan penumpang dari pinggir jalan. Di trayek busway di internet juga keliatan ada halte RSCM, meskipun tidak ada bentukan halte dedicated macam di Salemba UI. Makanya penasaran, tapi belum pernah nyoba.

Kemarin, kebetulan sedang ada urusan di sekitaran RS Kanker Dharmais dan RS PJN Harapan Kita. Sore hari setelah urusan beres, saya ngecek Go-Jek untuk balik ke daerah Salemba. Lihat tarif di Go-Ride, 13 ribu. Udah mau pesan, tapi setelah saya pikir lagi, toh kebetulan saya lagi nggak buru-buru, nyoba deh naik busway aja sampai RSCM.

Akhirnya naiklah di halte RS Harapan Kita. Setelah beberapa menit, datang juga bus koridor 4A, Grogol – TU Gas. Bus yang trayeknya menghubungkan RSCM dan Harapan Kita secara langsung. Oke. Saya pun naik.

Awalnya bus ini jalan via jalur busway biasa, melewati halte yang saya sebut dedicated tadi (Halte RS Harkit tempat saya naik juga termasuk). Terus berlanjut hingga Sudirman, halte Dukuh Atas 1. Kemudian Tosari-ICBC. Baru setelah halte ini, bus belok di Bundaran HI menuju Jalan Imam Bonjol, keluar dari trayek busway.

Di sinilah bus mulai masuk rute non-BRT. Di sepanjang Jalan Diponegoro, ternyata cukup banyak bus stop untuk pemberhentiannya. Mulai dari Taman Senopati, Stasiun Cikini, Megaria (Metropole), hingga RSCM. Saya lanjut karena berniat turun di Jalan Salemba Raya aja. Ternyata bisa berhenti lagi di YAI (depan RSCM Kiara). Kemudian belok ke Jalan Salemba.

Di sini kirain udah masuk trayek busway lagi. Ternyata belum. Bus berhenti di Halte RS Carolus, tepat di depan rumah sakitnya, dan bukan halte Salemba Carolus yang memang halte busway dedicated. Saya turun di sini. Baru di Matraman, bus 4A ini akan masuk ke trayek halte busway dedicated seperti sedia kala. Karena bukan di halte dedicated, turunnya agak beda. Bukan dari pintu tengah, tapi pintu depan. Tersebab pintu tengahnya ketinggian, didesain khusus buat halte dedicated.

Perjalanan dari Harkit ke RSCM dengan busway ini nggak lama, sekitar 40 menit. Dengan ongkos 3.500 saja. Sama-sama bisa sampai. Suasananya pun nyaman. Kelebihan lain naik bus dibandingkan ojek, saya juga bisa sambil baca gadget dengan lebih bebas. Kalo di ojek, ngeri jambret. Jakarta keras.

Demikianlah, pertama kalinya saya naik busway non-BRT. Kesan saya, nyaman. Sekarang pun setelah saya cari tau, memang TransJakarta makin banyak trayek dan rutenya, makin banyak rute non-BRT pula, yang artinya merambah ke lebih banyak area. Ke mana-mana semakin mudah.

Semakin hari, semoga transportasi umum di Jakarta, dan Indonesia, makin baik lagi. Semoga trayeknya makin luas lagi. Biar kita juga makin getol naik transport umum. Biar Jakarta makin aman, makin nyaman. Saya yakin akan bisa, apalagi dengan adanya LRT-MRT yang semakin ke sini bentukannya udah semakin jadi. Dengan KRL yang semakin ke sini juga semakin apik dibenahi. Gak sabar ingin ikut merasakan, Jakarta ke depan yang ojek independen, yang nyaman dijelajahi dengan transportasi umum.

Tugas pemerintah buat membangun, tapi tugas kita bareng-bareng untuk menjaga, memanfaatkan sebaik-baiknya, dan memelihara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s