Teladan Cinta

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian atau pengorbanan.

— Ust Salim A Fillah, “Mencintai Sejantan Ali” dalam “Jalan Cinta Para Pejuang”

Semoga Aji meneladani Ali ~ (:

* meneladani Ali, dalam banyak hal, adalah kemuliaan. Ialah pemuda yang termasuk dalam Assabiqunal Awwaluun. Ia yang pamungkas dari empat pemimpin khulafaa’ur rasyidin. Ianya salah satu dari sepuluh sahabat yang surga telah dijaminkan atas mereka. Pun beliau adalah seorang pembawa panji perang yang dicintai oleh Allah dan RasulNya, sebagaimana disabdakah oleh Rasulullah SAW sendiri. Tak kalah istimewa, beliau merupakan ayahanda dari dua orang pemimpin pemuda ahli surga, Hasan dan Husain. [*]

Maka dalam sebaris do’a, kumaktubkan sebuah cita-cita. Tentang teladan dan cinta.

What Defines You

Your specialty (later) is not what defines you. You define yourself!

– dr Fariz Nurwidya, PhD, SpP. 17 Maret 2018.

Your specialty does not define your success. You define yourself, you define your success!

Menapak Mimpi

Hari ini, perlahan-lahan kamu mulai bergerak, berjalan mewujudkan apa yang selama ini tersimpan dalam angan dan mimpimu. Satu per satu.

Bukankah itu begitu indah membahagiakan?

Alhamdulillah. Alhamdulillah, atas ni’mat berupa kepercayaan untuk bisa melangkah seperti ini, perlahan mewujudkan mimpi-mimpi. Apapun hasilnya ke depan, bagaimanapun keberlanjutan proses dan kisahnya, semoga tetap senantiasa istiqomah dalam koridor ketaqwaan kepadaNya.

Bismillah.

Yaa hayyu yaa qoyyuum, birohmatika astaghiits. Ashlihlii sya’nii kullahu, wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ain

(Wahai Yang Maha Hidup Lagi Maha Berdiri Sendiri, dengan RahmatMu aku mohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya, dan jangan Engkau lepaskan aku kepada diriku sendiri walau hanya sekejap mata)

Laa haula wa laa quwwata illaa billah.

Keluargaku Surgaku

Menikah jangan hanya soal cinta. Menikahlah dengan orang yang bersamanya surga terasa lebih dekat.

– digubah dari Bunda Asma Nadia, 3 Maret 2018.

Dalam acara Half A Deen 2018, saya berkesempatan bertemu dan berbincang dengan Asma Nadia, salah satu penulis muslimah Indonesia yang karyanya tak diragukan lagi kualitasnya. Alhamdulillah bertugas menjemput beliau dari kediamannya, jadi ada cukup waktu untuk bertukar pikiran.

Ada beberapa topik perbincangan, dengan salah satunya tentu soal pernikahan.

Beberapa pesan dan pembelajaran dari beliau soal ini:

  1. Cari istri jangan yang cengeng / suka mengeluh
  2. Pastikan tujuan bersama adalah surga. Jika surga telah jadi asa bersama, maka tak perlu lagi curiga di antara kita. Konflik internal akan teratasi karena berdua telah bersepakat menyatukan tujuan karenaNya. Konflik internal yang minimal akan membuka ruang karya dan kontribusi untuk mencapai tujuan keluarga yang lebih besar.
  3. Istri adalah madrasah pertama untuk anak-anakmu kelak. Maka pastikan kamu memilihkan madrasah yang terbaik untuk mereka.

Pertemuan singkat kami kemudian diakhiri dengan iring do’a agar dipertemukan-dipersatukan dengan pasangan yang terbaik. Amiin.

Saran-saran soal istri, musti dibarengi konsekuensi akselerasi pada kapasitas diri sendiri.

Bismillah. Semoga senantiasa lancar, dalam koridor ketaatan. Biidznillah.

Untuk Siapa?

Malam-malam yang kita habiskan dalam begadang menyelesaikan tumpukan berkas tugas-tugas,
Penat yang kita raupkan dalam khidmat membaca ribuan baris tulisan dalam rangkum buku-slide kuliah-tentir-konsensus-pedoman klinis dan segala rupa materi lainnya,
Letih tangan yang kita goreskan dalam lembar-lembar status yang seolah tak habis-habisnya,

Semua itu, untuk siapa?

Subuh-subuh yang kita kejar dari satu ranjang ke ranjang lainnya,
Kantuk kelopak yang kita paksa tetap terbuka dalam letih tugas jaga,
Berjam-jam pandang yang kita benamkan dalam layar kaca untuk berlatih satu dua set soal lagi setidaknya,
di tengah hiruk pikuk sibuk tanggung jawab kita lainnya yang tak henti menagih raungnya,

Semua itu, untuk siapa?

Apakah untuk diri kita sendiri saja, agar tak malu dikata ketika berhadapan dengan konsulen dan teman sebaya sedang kita tak tahu apa-apa?
Ataukah untuk mereka, orang-orang di masa depan yang saat ini belum juga kita kenal, tak juga kita tahu, tak pula bisa kita pilih, tapi kelak akan menghampiri kita dalam ikhtiar meraih kembali nikmat hidup dalam sehat yang selama ini kita semua banyak abai terhadapnya?

Sungguh, letih dan penatnya sama. Malam-malam begadangnya tak beda. Tapi tertuju untuk siapa, itu pilihan kita.

Maka adakah yang lebih baik, selain meniatkan lelah menuntut gunung ilmu yang tingginya tak kasat mata ini, untukNya semata? Sebab padaNya lah, berkah ilmu ini berada. Hanya dengan kuasaNya lah, kunci ilmu ini dapat terbuka. Dan atas izinNya lah, manfaat ilmu ini dapat kekal terasa bahkan selepas ajal menjemput kita.

– MAM –
Jakarta, 9 Januari 2018.
Sebuah renungan di sore yang temaram.

 

Tertawa (2)

Mungkin suatu hari nanti aku akan benar-benar tertawa.

Menertawakan betapa naif diriku adanya (diriku yang saat ini)

Betapa Allah memiliki caraNya sendiri dalam menata jalan hambaNya

Dan saat itu, semoga aku akan tertawa bersama.

Ya, bersamamu.

(15 Oktober 2017)

Save More Than 50% on Kindle Books by Switching from Amazon.co.uk to Amazon.com

Several months ago, I found an interesting book that I am willing to buy on Amazon.com to read on my Kindle. Unfortunately, this book’s kindle edition is somehow not available to be bought at that time. I then searched on Amazon.co.uk and found out that this title is available in Kindle edition there! I googled and found a simple way to enable my account to shop from Amazon.co.uk: just change the address in “Content and Devices” page to some arbitrary, even virtual address in UK (I changed mine to 221B Baker Street, mind you), and that’s it. You will then be able to shop from Amazon.co.uk.

And so I did, and I bought that book.

Ever since, I didn’t bother to change back into Amazon.com. This is due to the fact that every other book I’ve been wanting since, is available both in the .com and .co.uk version of Amazon, with a comparable price. The only difference is the currency, and that I can’t buy from Amazon.com right now since my address is on the UK. So I thought, OK, if the same book is available in multiple sites, the price will be the same.

Wrong!

The enlightenment came just now, when I tried to search for a title, HBR 10 Must Reads on Managing Yourself. Accidentally, I searched for this book using google chrome, where I didn’t log in to Amazon.com. I saw a price of US$ 9.90 for the kindle edition. Alright, so I want to know how much is it in GBP, so I copy the link and pasted it on to Safari, browser in which I logged my Amazon account. Surprisingly, when the page opened up, I saw a nonsense price of US$ 21.67 of the very same book! More than doubled! Please note that I am logged in to Amazon, but I couldn’t buy it from Amazon.com and has to switch site to Amazon.co.uk. So I switched to .co.uk, to find a price of GBP 16.29, which is comparable to US$ 21.67 !

Do you get what I mean?

When I am logged in, the Amazon.com’s site actually adjusts the price to the equivalent USD price with Amazon.co.uk, not the original price it offers. If I logged out, the same page will show US$ 9.90 only, instead of previously shown US$ 21.67.

My point is, be careful when comparing prices of kindle books between different Amazon sites! It will automatically adjust price to your respective location so you won’t notice the difference, while they are actually different. I mean, 9.90 to 21.67 is such a big jump, right? In this case, viewed from another angle: with a careful observation, we can actually save more than 50% on Kindle Books by switching from Amazon.co.uk to Amazon.com!

Menjadi Diri Sendiri

Sepagi itu, aku tiba-tiba mengerti mengapa hati ini beriak tak henti-henti

Bahwa terkadang, bahkan mungkin seringkali, aku tidak menjadi diriku sendiri di hadapanmu

Sebab menjadi diri sendiri,
berarti menikmati setiap detak takikardi yang menggelora setiap kali kau ada di sini
berarti tersenyum senang melihatmu tertawa riang atas canda yang aku lontarkan tadi

Sebab menjadi diri sendiri,
berarti menjadi aku yang menatapmu sembari mendengar lantunan alunan kisah-kisahmu,
berarti menjadi aku yang ikut mengembangkan senyuman hanya karena sepintas senyum yang kau kilaskan,
berarti menjadi aku yang menanti lantas gembira atas hadirmu,
tanpa ragu-ragu

Sebab menjadi diri sendiri, berarti menjadi sepenuhnya diriku yang mencintaimu

Sesuatu yang tak pernah berubah, bahkan setelah bertahun kini.

Ya Rabbi, esok hari, izinkanlah aku menjadi diri sendiri